Sabtu, 26 Mei 2012

MENAKAR KEMBALI TERORIS AGAMA

Islam datang bagaikan nyanyain yang menggoyang ilalang disavana dan sateva Indonesia. Dengan menggunakan alat wayang golek yang dipelopori oleh sunan Kali Jaga, maka isam semakin lama semakin diminati dan semakin lama semakin banyak pengikut sampai kemudian islam Indonesia paling banyak dan terbanyak dibandingkan dengan pengikut agama Islam disetiap negara diseluruh belahan dunia. Pertanyaan selanjutnya adalah ada apa dengan Islam Indonesia? Apakah yang menyebabkan penganut Islam Indonesia paling banyak?
Padahal seperti yang kita ketahui persoalan menyebarkan agama itu bukan hal yang mudah, bukan seperti layaknya kita membalikan telapak tangan, bukan seperti ketika para pemburu babi hutan yang begitu beringas untuk membunuh. Yang kita buru adalah manusia yang memiliki otak, yang kita buru adalah bangsa, demi terbentuknya tatanan masyarakat yang memiliki peradaban.




Disamping dengan melakukan dakwah merekapun melakukan hal dibidang politik (hirarki) dan kita pernah merasakan perjalanan sejarah panjang untuk semua itu. Dan hal untuk perjalanan dakwah yang penuh penomenal tersebut begitu melekat dan menancap bagai lingga jati di hati sanubari masyarakat kita, jangan sampai hanya dijadikan sebuah romantisme sejarah yang malah membuat kita larut di dalamnya sehingga kita tidak melakukan meta_strategi yang baru dalam melakukan penyempurnaan dakwah tersebut.
Tapi, tahukah bahwa hanya satu metode yang begitu sangat melekat dan begitu sangat dcintaiterima oleh masyarakat kita, yaitu dakwah dengan wayang golek untuk jawa barat, wayang wong untuk masyarakat jawa tengah, wayang kulit untuk masyarakat jawa timur. dan kemudian wayang inipun menjadi sebuah inspirasi bagi penyebaran islam dibeberapa pelosok indonesia, di beberapa puau di indonesia, sejarah mencatat keberhasilan dakwah dengan menggunakan wayang di negara tercinta.
Metode dakwah dengan menggunakan perdaganganpun menjadi sebuah sejarah yang tidak bisa terbantahkan. Namun, sayang dan sangat disayangkan metode dakwah dengan perdagangan tidak lagi menggeliat seperti dahulu kalan karena perdagangan mengalami pembusukan moralitas, dunia perdagangan menyuguhkan sebah manifestasi yang tidak cantik lagi lantaran pengambilan keuntungan yang sangat berlebuhan atau kalau kita harus mengatakan bahwa itulah kapitalistik, pengaruh monpoli dalam perdagangan sekalipun memang sangat tinggi, tapi sebenarnya hal itu masih manusiawi dengan catatan pengambilan keuntungan tidak terlalu berlebihan namun, yang terjadi itulah fakta yang terjadi dilapangan ironis memang namun itulah kenyataannya.
Metode dakwah dengan menggunakan pendekatan politik sekalipun sejarah peradaban islam indonesia telah mencatat hal itu. Apalagi ketika indonesia masih berbentuk kerajaan sampai abad 19 geliat penyebaran islam dengan metode politik menjadi sangat mempengaruhi, serta masih banyak lagi metode dakah yang dilakukan dalam rangka membangun sebuah kejayaan idiologi dunia yakni islam.
Islam adalah sebuah idiologi dunia yang sangat kontemporer bahkan sangat modern, (nurcholis madjid dalam islam kemodernan dan keindonesiaan) dalam sebuah pandangannya mengungkapkan kalau ingin modern maka pelajari islam, mahasiswa dan masyarakat islam jangan sampai malu apalagi merasa tidak maju lantaran masuk islam. Patut diketahui bahwa islam menjadi awal mula peradaban dunia ketika diutusnya manusia pemimpin pertama bernama Adam terlahir (qs.al-baqoroh:30). Dari sinilah kemudian islam menjadi imam idiologi dunia dan peadaban umat manusia.
Namun terkecuali yang menginginkan persoalan dalam hidupnya untuk berlaku semaunya tanpa memperdulikan yang lain, ini bukan persoalan individualis ini persoalan ego pibadi. Tapi barangkali yang harus menjadi catatan kita bersama bahwa dengan melakukan tindakannya yang semaunya malah membawa dirinya untuk semakin ketergantungan terhadap sesuatu yang sangat lebih besar akan keterikatannya (j.donald walters dalam crises in modern thought).

DUNIA PENUH KETIDAKPASTIAN DAN JAWABAN ISLAM
Bila kita mencoba untuk mengingat beberapa kejadian yang paling sangat tidak manusiawi itu pernah terjadi dinegara kita tercinta. Mungkin kita masih ingat pernah disuguhkan dengan kejadian dengan kejadan yang dikenal bom bali, kemudian bom kuningan, bom buku, bom cirebon dan saya tidak mampu lagi akan menerima akan dimana lagi bom akan dijatuhkan dinegara kita, betapa ironis memang ketika indnesia dimata dunia sangat memilik karakter dengan sikap yang rendah hatinya bahkan amerika pernah memuji kita untuk hal itu. Namun apa yang terjadi sekarang seolah masyarakat kita lupa akan apa yang menjadi identitasnya sebagai bangsa yang sangat pluralis, sebagain bangsa yang bisa menerima perbedaan, sebagai bangsa yang mengenal toleransi, sebagai bangsa yang berpancasila, sebagai bangsa yang bhineka tunggal ika, dan sebagai bangsa yang menganut sebuah idiologi yang termaktb dalam 4 pilar bangsa maka seyogyanya kita harus menjadi entitas sebagai bangsa yang berperadaban, terkecuali kalau kita mau dikatakan bangsa yang diktator dan bangsa yang sangat terbelakang, maaf bukan terbelakang. tapi, membelakangkan diri.
Akankah kita mampu keluar dari jeratan setan ini? Akankah kita mampu menjawab tantangan dunia bahwa indonesia adalah bangsa yang beradab? Indonesia adalah bangsa yang sangat toleransi atau pluralisme (tradisi islam).
Kita sebenarnya masih bisa menyelamatkan diri dari persepsi yang buruk terhadap negara kita namun sampai dimana kesiapannya? Barangkali itulah yang harus kita pikirkan ulang, kita harus membaca ulang, kta harus melakukan perenungan, apakah islam seperti ini yang diperintahkan tuhan, apakah islam seperti ini yang dianjurkan tuhan? Kalau bukan lalu seperti apa? Tuhan menginginkan seperti apa islamnya?
Hal yang tidak mungkin adalah kita menggunakan kekerasan dalam berdakwah, tidak ada perintah tuhan untuk melakukan kekerasan terhadap manusia juga terhadap semesta, dalam ayat manapun tidak pernah ditemukan. Karena tuhan tidak pernah menyukai kekerasan dalam volume sekecil apapun.
Bukankah kita mengenal kesabaran buken kekerasan, bukankah kita mengenal islam rahmatan lil alamin dan bukan rahmatan lil muslimin, dan bukankah kita mngenal ketaqwaan bukan kekufuran. Dan marilah kita mencoba untuk melakukan sebuah penetrasi keimanan agar sebagai bangsa yang memiliki keimanan kita tidak pernah dikatakan sebaga bangsa yang kolot dan ketinggalan zaman.
Bahwa apa yang sekarang kita kenal dogma adalah sebuah tesis, sementara keyakinan atau tauhid adalah sebuah antitesis, maka yang menjadi sebuah sintesanya adalah berpikir bebas, atau kebebasan berpikir. (j.donald walters:dalam crises in modern thought). Artinya bahwa lebih baik kita membebaskan dri untuk berpikir demi sebuah kebenaran daripada bebas berbuat untuk dianggap benar.
Teroris adalah islam tapi tidak semua islam adalah teroris, teroris muncul dkarenakan kekeliruan dalam menafsirkan al_quran saja, karena al_quaran sederhana, tapi bukan berarti sesederhana itu. Teroris hanyalah jawaban atas kekerdilan berfikir manusia untuk menafsirkan idiologi dan logika tuhan. Dan karena kekerdilan berpikirnya itu hanya mengakibatkan nihilistik belaka dan tidak menemukan nilai absolut pada akhirnya.
Kesederhanaan al_quaran mengakibatkan al_quaran tidak sesederhana itu. Itulah misterium idiologi tuhan. Manusia tidak akan mampu melogikakan logika tuhan, karena logika tuhan adalah wahyu. Wahyu tuhan adalah persepsi dan logika tuhan, bukan wahyu dalam logika dan penafsiran manusia tentang wahyu tuhan.
Namun, tuhan telah memberikan kebebasan manusia untuk berfikir, iqra yang artinya bacalah, seperti yang termaktub dalam (Qs.al_alaq), manusia hanya dipekenankan tuhan untuk melakukan perenungan sebelum berbuat artinya tidaklah keliru bila manusia melakukan ijtihad sendiri dalam pencarian kebenarannya dengan proses berpikirnya.
Maka, marilah kita merenungkan kembali seperti apa dan harus seperti apa? Islam bukan agama anarkis, bukanlah agama kekerasan, bukanlah agama tanpa kebebasan berfikir, islam adalah rahmat, islam adalah sebuah jawaban atas pesoalan ketidakpastian dunia. Islam adalah pedoman hidup manusia bukan saja umat islam. Maka marilah kita untuk merenungkan kembali makna islam yang sebenarnya yakni islam menurut tuhan.

Penulis: Parman Rudiansah
aktifis mahasiswa HMI Kuningan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar