Minggu, 16 Desember 2012

Glen Hansard (born 21 April 1970 in DublinIreland)[1] is the Academy Award–winning principal songwriter and vocalist/guitarist for Irish group The Frames and one half of folk rock duo The Swell Season. He is also known for his acting, having appeared in the BAFTA winning film The Commitments, as well as starring in the film Once. His song, "Falling Slowly", from Once, co-written with his co-star Markéta Irglová, won the Academy Award for Best Original Song in 2007, and earned him ten other major awards or nominations between 2007-08.[2]Hansard quit school at age 13 to begin busking on local Dublin streets.[3] He formed The Frames in 1990, and they've been staples of the Irish music scene ever since. Their first album, Another Love Song, was released on Island Records in 1991, and their most recent,The Cost, was released in 2006.[citation needed]
Hansard came to international attention as guitar player Outspan Foster in the 1991 Alan Parker film The Commitments, after attending the New York Film Academy School of Acting. He has often stated that he regretted taking the role, because he felt it distracted him from his music career. In 2003, he presented the television programme Other Voices: Songs from a Room, which showcased Irish music talent on RTÉ.
On 22 April 2006, he released his first album without The Frames, The Swell Season, onOvercoat Recordings in collaboration with Czech singer and multi-instrumentalist Markéta IrglováMarja Tuhkanen from Finland on violin and viola, and Bertrand Galen from France oncello. Hansard also spent part of 2006 in front of the cameras for a music-infused Irish filmOnce, in which Hansard plays a Dublin busker, and Irglová an immigrant street vendor. The film had its American premiere at the Sundance Film Festival in 2007 and received the Festival's World Cinema Audience Award. During the promotional tour, he and Irglová began dating.[4] Said Hansard about his relationship with Irglova: "I had been falling in love with her for a long time, but I kept telling myself she's just a kid".[5] One of the songs they wrote ("Falling Slowly") won an Oscar for Best Song in February 2008. Hansard became the first Irish-born person to win in that category. He was accompanied by his mother, Catherine Hansard.
Add caption
Hansard and Irglová recorded a version of Bob Dylan's "You Ain't Goin' Nowhere" for the filmI'm Not There in 2007. In 2009, Hansard said that he and Irglova were no longer romantically linked, and that they are now "good friends".[6] Aside from his projects with The Frames and Irglová, Hansard also took part as a member of the band on the 2006 Oxfam charity album,The Cake Sale.
Hansard has recorded several cover songs, both alone and with band member Colm Mac Con Iomaire, for the Today FM discs Even Better than the Real Thing. Songs that he has recorded include Justin Timberlake's "Cry Me a River" on Even Better than the Real Thing Vol. 1 andBritney Spears' "Everytime" on Vol. 2.
He voiced a role on an episode ("In the Name of the Grandfather") on The Simpsons as an Irish busker. A new album of original songs recorded as The Swell Season with Markéta Irglová and entitled Strict Joy was released on October 27, 2009 on the ANTI- record label.[7]
On 14 August 2009, Hansard sang "Amazing Grace" at the funeral of Eunice Kennedy Shriver. In December 2009, he was joined byBonoDamien Rice and other Irish musicians on Grafton Street in Dublin, to busk in aid of the Simon Community. In January 2010, Glen and fellow musician Mark Geary auctioned off a house concert on eBay in aid of Haitian relief after the catastrophic earthquake left the country in dire need of assistance. The pair would travel anywhere within a 2 hour drive of Dublin and play a private gig in the highest bidder's house. In the end the two musicians played for the highest bidder and a selection of other fans in a central Dublin cafe. The auction raised in the region of 6,000 (six thousand euro) for charity.[citation needed]
In the summer of 2011, he joined Eddie Vedder on his American solo tour in support of Vedder's solo album, Ukulele Songs. He also played his own solo concert at the opening of New York's Metropolitan Museum of Art Guitar Heroes exhibit in May[8] and on Cape Codat the Cape Cinema on 17 June.[9] On 3–4 September 2011, he played at Pearl Jam's 20th Anniversary Festival PJ20 at the Alpine Valley Theatre outside of East Troy, Wisconsin.
Hansard plays several guitars, amongst which a very recognizable battered Takamine NP15 acoustic guitar (even sporting a large hole), which he calls "The Horse".[10]
In a recent interview[when?] in the Huffington Post with Irglova, it was revealed that Hansard was preparing a solo album and that there was a very possible third release from the Swell Season. This solo album was later revealed to be titled Rhythm and Repose[11]
American Songwriter included Hansard's "Love Don't Leave Me Waiting" on its The Muse July Sampler.[12]
Hansard sang the song "Take the Heartland" on the soundtrack for the 2012 film The Hunger Games. Another song he wrote, "Come Away to the Water", is also featured on the soundtrack, but is covered by Maroon 5 and Rozzi Crane. Hansard can be found singing "Come Away to the Water" on the deluxe edition of his first solo album Rhythm and Repose.
Hansard guest-starred in an episode of the TV series, Parenthood, playing himself. In the episode, Trouble in Candyland, he will perform "High Hope," the latest single from his solo debut Rhythm And Repose.[13]

taken from http://en.wikipedia.org/wiki/Glen_Hansard

Kamis, 13 Desember 2012

Pertanyaanku


aktifitas malam nyaris tanpa desakan tinta yang beriring meraksak keluar untuk mensari-nari di atas putihnya kertas menanti karyanya diselesaikan. yaaa hujan yang tak kunjung reda kemarin, hadirkan dingin yang menusuk nusuk membawaku tertahan dalam selimut mlm tadi... Jiwaku gusar, ragaku terdiam.
Tanyaku pada mentari yang sebentar lagi kujamu dalam cerita Indah hari ini, sperti apa aku kelak nanti?.....

Rabu, 12 Desember 2012

Dari surau tua



ketika banyak percakapan disana menyatu dalam hantaran udara ribut akan 12 12 12, kucoba larut dalam surau tua 45 menit 8 detik yang lalu. gemercik air masih terdengar mengericik laksana meteor berbaris beriring melejit menusuk bumi ini. suasana nan sunyi, lentera merah menyala menggantung terlihat dari sela - sela jendela surau.. hangat, nyaman, kudengar pula penunggu surau berbisik indah penuh teguran dan arahan.
yaaa benar hujan memang menahanku disana.. terbesit perih akan langkah - langkah kotor ini. tapi aku bermimpi, kan kusiapkan berkas - berkas dan ku masukan dalam rangsel tuk capai semua harapanku. kemarilah, kemarilah semua rintangan... kau dekatkanku gapai mimpiku.. karena janjiNya mendekap erat dalam nadiku...

http://www.facebook.com/baran.wargika?ref=tn_tnmn

Minggu, 28 Oktober 2012

Cinta Habibie


Cinta Habibie

Habibie Prajurit Kertas, begitulah orang memberi judul untuk karya tulis sesosok laki-laki muda kelahiran Yogyakarta dan sedang menempuh pendidikan Jurnalistik di Universitas Bakti Indonesia untuk gelar sarjana. Penampilan sederhana, rapih dengan ramput belah pinggir menjadi ciri khas lelaki ini.
Suatu hari diceritakan Habibie mengikuti perkumpulan perencanaan kegiatan Bakti Untuk Negeri yang diselenggarakan oleh Badan Pengabdian Negeri Nasional. Ia salah satu peserta kegiatan tersebut, ratusan orang berbaris memenuhi gedung perundingan laksana prajurit mengantri makan malam. Bising percakapan antar perorangan, masalah perkuliahan, tugas, pekerjaan, rutinitas sampai arisan terdengar menjadi satu irama yang sedikit menggangu Habibie ketika pintu masuk gedung terbuka.
Peserta dibagi menjadi 35 kelompok, Habibie salah satu dari kelompok 34 saat itu. Berdiri tegap, menoleh kanan kiri mencari dimana calon teman-teman sekelompoknya, seperti komandan mengawasi pasukannya di sesi latihan. Hingga akhirnya ia baca papan petunjuk yang bertuliskan kelompok 43, masih sepi, tak ada orang duduk maupun berdiri disekitarnya. Ia sendiri, namun satu, dua, lima menit berlalu hingga mula bermunculan peserta kelompok 34 dari balik tiang gedung. “anda juga kelompok 34 ya, perkenalkan nama saya Habi,” begitulah ia mencoba untuk ramah.
Setelah lama diskusi berjalan, tercetus pelaksanaan kegiatan dilaksanakan tiga hari kedepan. Habibie dipercaya yang lainnya untuk menjadi ketua kelompok, menjadi hal yang sangat menarik untuknya saat itu.
Diskusi lanjutan kelompokpun kerap dilaksanakan, hingga pada akhirnya waktu pemberangkatanpun tiba. Perlengkapan yang habibie bawa lumayan banyak, Tas gendong, papan tulis, paket alas tulis, dan printer. Turun dari angkot, ia bingung mau gimana bawa perlengkapan sebanyak itu ke arena kampus, karena jarak ke kampus lumayan masih jauh dan tidak ada trayek angkutan kesana.
Handphone bergetar, ketika ………………………….. (Pending)


Tanggal 29 September menjadi hari terakhir mereka disana, kesedihan mulai terasa di tengah-tengah hangatnya sambutan masyarakat. Beberapa acara terselenggara. Hingga tiba malam hari ketika acara hampir semuanya usai.. ini saatnya Habi menyatakan apa yang ia rasakan ke Fima, Fima sedang asik bercanda sambil melepas lelah dengan teman yang lain saat itu di ruang tengah penginapan. Habi sendiri diluar menunggu waktu yang tepat, hati dag dig dug tak karuan laksana prajurit dibangunkan serentak di lelapnya tidur malam. Terbayang suasana takut dan menegangkan menyirami seluruh kujur tubuhnya sampai ketulang sumsum tengkoraknya. Habi mencoba mengirimkan pesan singkat ke Lora, disuruhnya ia tuk memberi tahu Fima untuk keluar. Masih tidak ada yang tahu selain Lora kedekatan mereka sa,pai saat itu.
Melaui pintu belakang kemudian Fima menghampiri Habi, sedikit senyum lalu ia duduk tepat di depan Habi. Habi mencoba menyembunyikan ketegangannya, sesekali ia mencoba menarik nafas, mengalirkan oksigen tambahan ke seluruh aliran darah yang memuncak malam itu. “Allhamdulillah ya ma akhirnya acara penutupan lancar seperti ini, ya seginimah bisa dibilang lebih dari sukses ya, hee,” begitu sapaan Habi membuka percakapan mereka, “ia ya ini berkat kerja sama yang kompak dikelompok kita,” Fima membalas singkat. “Ma, sebenernya ada yang mau aku ungkapin ke kamu, aku pikir ini waktu yang tepat.. akhir-akhir ini, sejak dua minggu yang lalu kurasakan hal berbeda ketikaku memahami kamu dibandingkan dengan teman yang lainnya, rasa ingin memiliki itu tumbuh perlahan dihati aku ma, munkin kamu juga merasakan hal itu, ehmmmm mau ga kalo kamu jadi satu-satunya orang yang selalu ada di hati aku?” Habi mengungkapkanya dengan suara yang tak terlalu keras, takut terdengar teman-teman yang lain. “gimana ya Bi, kita belum saling mengenal satu sama lain,””ya kita bisa saling mengenal ko setelah kita bersama, mau kan Ma? Jawab jujur ya!,” Mereka terdiam, Habi mulai ketakutan akan jawaban Fima, menjelang dua menit mereka terdiam, mereka saling bertatapan, dak akhirnya jawaban itupun terungkap, Fima menganggukan kepalanya, kemudian disusul anggukannya dua kali meyakinkan. Seperti menahan kentut kemudian dikeluarkan di tempat sepi Habi membaringkan tubuhnya ke Sofa. “Habi! Fima masuk dulu ya, ga enak diliat sama yang lainnya, ga apa-apa kan!” “ia fima, jadi kesimpulannya kita jadian kan! Ok hok kamu masuk duluan, ntar aku nyusul.” Percaya ga percaya mereka jadian juga. Tanggal 29 September akan menjadi tanggal yang selalu Habi ingat.
Tidur nyayak rupanya akan menghiasi habi malam itu, saat ia terbangun, kebahagiaan karena Fima sudah menjadi miliknya. Kemudian mereka bertemu kembali pagi itu, persiapan pulangpun hamper rampung. Tiba – tiba Fima menghampiri Habi, sedikit sumringah Habipun menyambut kedatangannya, laksana dua sejoli yang tak bertemu lama“Habi, gapapa kan kalo Fima pulangnya bareng Alex di motor, Fima suka pusing kalo di Bis, gapapakan!” “hmm kenapa ga di Bis aja, enak ko ga penuh ma, kan ada aku!” “tapi kan rutenya bikin pusing, naik turun Bi,” tambah Fima. “ya sudah kalo gitu, hati-hati ya!” habi mengizinkan meski aga sedikit berat.
Habi duduk sendiri di pinggir jendela Bis, yang pada saat itu memang tidak terlalu padat, karena sebagian peserta memilih memakai taxi. Bispun melaju perlahan, terlihat Fima dan Alex melintas, menyusul bis tersebut.
Setelah dua jam perjalanan, bis tiba dikampus lebih awal, Habi membereskan barang-barang bawaan sembari menunggu Fima. Waktu sudah menunjukan waktu Dzuhur, Habipun memutuskan untuk shalat terlebih dahulu.
Seusainya Habi shalat, terlihat Fima sudah datang. Ia berjalan ke arah suatu tempat, “maaaaa, mau kemana kamu!” Habi mencoba menyapa Fima lagi dengan suara keras karena memang jarak keduanya lumayan jauh, kemudian habi lihat Fima hanya melambaikan tangan saja. “hmm dasar cewe, kalo lagi cape gitu apa-apa jadi bête.” Setengah jam berlalu, hampir keseluruhan peserta berkumpul di parkiran mesjid, kemudian tak lama merekapun membubarkan diri. Terdengar pula oleh habi canda tawa mereka menceritakan asiknya perjalanan pulang. “Lex makasih ya atas tumpangannya,” terdengar ucapan itu dua kali oleh Habi dari mulut Fima. Sedikit memalingkan muka, seakan akan tak dengar. Memang Fima orangnya seperti itu.
Habi mulai merasakan ada hal yang berbeda yang ia perhatikan dari sikap Fima, “Fima boleh numpang ga kedepan, ke tempat taxi, bawaan aku banyak nih,””owh ia sok aja bi,” habi menumpang mobil yang Fima sewa untuk pulang. Habi duduk dibelakang sembari menjaga barang-barang yang segitu banyaknya, seperti kamping yang siap dijual. Habi dihantarkan sampe ke tempat kontrakannya, “ma, makasih ya, mampir dulu yu!” sembari mengangguk, fimapun meneruskan perjalanan.
“cie cie kayaknya udah jadian nih sama dia ya Fim!” Tanya Lora yang kebetulan ikut semobil dengan Fima. “Apaan ci Ra, jalanin ja deh, he” jawab Fima dipertengahan jalan menuju rumah kediaman mereka yang tak begitu berjauhan.
Di suasana sepi malam kembali Habi termenung dikamarnya, hening tanpa suara, hanya sesekali terdengar suara cicak seakan bertanya mengapa. Kebahagiaan yang ia bayangkan semakin pudar, rasa ragu dan was-was seperti kilat menjelang hujanpun kian menghampiri tanpa permisi.
Habi mencoba menghubungi Fima, “Ma lagi apa? Kangen senyum kamu ma!” Habi berusaha cairkan hatinya yang aga sedikit kaku malam itu. “lagi istirahat Bi, kenapa?” “gapapa ma cuma nanya aja, ya sudah kamu istirahat ya, night!.” Obrolan via HPpun usai tanpa ada balasan lagi dari Fima.
Satu, dua hari berlalu dan hubungan mereka masih seperti itu. Di malam berikutnya Habi mencoba kembali menghubungi Fima.
Habi  : malem Fima, lagi apa? Boleh tanya sesuatu ga?
Fima  : malam Bi, lagi ngerjain tugas nih. Ia mau tanya apa?
Habi  : gini Ma, kita kan udah jadian ya. Tapi ko setelah malam jadian kita, ke esokan harinya kamu terlihat beda, ada apa sebenernya?
Fima  : hmm gimana ya bi, sebelumnya minta maaf. Sebenernya waktu malam itu Fima bingung harus ngomong apa, Fima ga tau cara untuk ngasih tahu kamu kalo Fima Cuma sekedar suka sebagai teman ke kamu bi, maaf kalo ini nyakitin kamu.
Habi  : coba deh kamu ingat kenangan-kenangan kita disana, kamu rekam ketika aku nyanyi-nyanyi, sepedahan bareng, kamu sun tangan aku sepulang dari mesjid, kamu belain aku ketika aku sedikit marah ma kamu, walaupun yang lain ga tau hal itu, yakin ko kita ngerasain nyaman satu sama lain kan, dan kata-kata barusan ga mungkin keluar dari mulut kami Ma.
Fima  : Kalo dibilang nyaman ya Fima juga nyaman Bi, tapi nyaman itu hanya sekedar teman, belum lebih.
Habi  : aku tembak kamu karena aku tau kamu mengharapkan hubungan yang serius, dan aku memang pengen ngejalanin yang serius Ma. Percaya please. Oke memang aku ga seperti yang lainnya, yang kesana kemari enak wat dibawa jalan, BBMan, hang out kesana kemari. Keluarga aku sedang di uji terutama factor Ekonomi, kedua adik aku juga lagi butuh-butuhnya biaya buat sekolah, jadi fokus aku sekarang gimana caranya bisa ini itunya sendiri, ya yang bisa dikerjainmah selalu aku lakuin. Sekarang terserah kamu ma mau dilanjut atau engga sebelum terlalu jauh, aku gak percaya ini sesosok Fima yang aku kenal.
Fima  : Sama aja Bi, keluarga Fima juga keluarga sederhana, Fima ga permasalahin itu ko.
Habi  : Ya sudah, intinya hubungan kita mau dilanjut atau tidak?
Fima  : Kasih waktu ya.

Setelah lama SMSan, Habi tetap masih ga percaya atas perlakuan Fima ke dia. Memang pada saat itu Keluarga Habi sedang di uji. Habi lahir dari keluarga yang sangat sederhana, semasa kecilnya Habi tak begitu merasakan banyak suasana yang semestinya kebanyakan anak yang lain merasakannya. Sering dikucilkan, di olok-olok. Suatu ketika juga Habi pernah dilempar kulit pisang oleh tetangganya ketika dia buang hajat dipinggir sungai, karena rumah panggung yang ia miliki tidak mempunyai MCK, di usianya yang masih 6 tahun, Habi sedikit tertekan. Tapi semangat dan optimis orang tuanya selalu menjadi kebanggaan Habi, yang sampai saat dewasa ini masih menjadi semangat Habi. Wa;au terkadang ketika anak-anak yang lain bermain asik kesana kemari, Habi membantu orang tuanya untuk berjualan es potong, “es… es.. es.. es potong,” begitulah suara kecil terdengar dari mulut Habi sepulangnya ia sekolah mengelilingi sepinya kampung. Begitulah kira-kira masa kecil Habi.
Masih tentang keluarganya, Pa Hari adalah bapak dari Habi. Semangat dan optimisnya yang selalu menggebu menjadikannya pegawai diperusahaan minyak, yang pada awalnya ia hanya bekerja sebagai sopir saja. Lambat laun karirnya mulai merangkak, prestasi selalu ia dapatkan sehingga suatu hari ia menjadi manager diperusahaan tersebut. Dari situ mulailah perekonomian keluarga Habi mulai merangkak naik, mulai dari terbelinya sepeda, motor, terbangunnya rumah sendiri walaupun sederhana, terpenuhinya kebutuhan sehari-hari mereka mulai terasa ketika Habi duduk di bangku SMP.
Namanya juga hidup, karir pa Hari mulai meredup, hingga sekitar 2 tahun terpontang panting mengalmi penurunan. Tapi ia tetap optimis, atas kebesaran Allah dan ikhtiar yang sudah ia jalankan semuanya tidak akan kemana, hingga pada suatu ketika ia membuka perusahaan minyak sendiri dengan beberapa jumlah karyawan, Allhamdullilah Habi bisa melanjutkan kuliah, untuk memperlancar kegiatan mereka, fasilitas kantor, kendaraan seperti mobil, motorpun terpenuhi, orang-orang mulai segan, apakah seseorang jika ingin dihormati harus kaya terlebih dahulu, itulah kalimat yang keluarga Habi benci sampai saat ini.
Dan di usianya kini, Habi harus lebih bersabar lagi, karena kebutuhan hidup semakin bertambah. Yang biasa dikenal dengan Habi si Mio Gold pun jadi hilang, motor kesayangannya harus ia jual untuk memenuhi tuntutan hidup. Tapi Habi tetap menikmati kehidupannya walau kadang sesekali Habi mengeluh.
Suatu malam habi berdoa, doa yang selalu ia panjatkan sejak kecil, terdengar dari sela-sela pintu kamar Habi. “Ya Allah jadikanlah hamba menjadi hamba yang selalu bersukur dan sabar akan segala keputusanmu, dan jika engklau berkenan jadikanlah hamba menjadi hamba yang bermanfaat bagi orang-orang disekeliling hamba, titipkanlah rijeki mereka melalui tangan hambamu ini ya Allah, Amin.” Begitulah kira-kira keinginan kuatnya untuk membantu orang. Itu sekilas tentang Habi saat ini yang bercita-cita melanjutkan studi sekaligus kerja ke Eropa.
Kembali tentang kisah cinta ia yang belum usai, di malam ketiga Habi kembali menghubungi Fima.
Habi  : Fima lagi apa? Ko ga ada kabar ma?
Fima  : ia Bi, mulai banyak tugas kampus nih.
Habi  : Ma gimana keputusannya?
Fima  : Jangan tanya itu dulu, Fima bingung Bi.
Habi  : ga bisa sekarang? Ya udah ga usah sekarang, tapi jangan terlalu lama ya Ma, aku ga tenang.
Fima  : Gini aja ya Bi, maaf sebelumnya, takut terlalu jauh, terus kamu kecewa, Fima mau bilang hubungan kita ga bisa diterusin lagi, ternyata suka Fima ke kamu Cuma suka sesaat saja. Maafin Fima Bi.
 Habi : Aku ga percaya ini kamu Ma, bener-bener ga percaya. Ya sudah kalo itu keputusannya, dipaksakan juga pasti ga baik.
(tak ada balasan dari Fima)
Habi  : Yang perlu kamu tau, cinta aku ke kamu tulus, dan itu niat serius aku ke kamu. Jangan ada yang berubah ya, kita tetep bisa jadi teman sharing kan, biarin anak-anak yang lain jangan tau dulu, takut malah mereka berubah sikap, kan kamu tau sendiri ada beberapa cowo yang suka sama kamu juga.
Fima  : Ia Bi makasih ya dah ngertiin Fima.

Habi kembali termenung dikamarnya sendiri, bantal guling menjadi teman akrab malam itu, hanya mereka yang faham keluh kesah Habi rupanya.
Seminggu berlalu suasana Habi tetap tak sesumringah ketika cintanya diterima Fima di malam terakhir kegiatan mereka. Hingga tiba suatu ketika mereka berdua bertemu kembali untuk menyusun laporan hasil kegiatan, waktu menunjukan jam 04.00 sore, laporan harus disetorkan ke esokan harinya. Fimapun sendirian datang ke kontrakan Habi. “eh kamu Ma, masuk ma maaf nih seadanya gini kontrakan akumah, harap dimaklum ya. Oia gimana laporannya, sudah sampai mana?,” Habi bertanya, seolah-olah Fima sesosok cewe biasa dimatanya. “ dikit lagi ko Bi, tinggal di print aja, kamu apa kabar,” “aku baik-baik ja ko Ma, kamu sendiri?” “aku juga Alhamdulillah baik,” “ oia kamu mau minim, haus kan pasti, at mau makan gitu,” Habi mengambilkan minum dan makanan dari kulkas, seperti patih menawarkan bantuan pada ratu dikerajaan Majapahit tempo doloe. “ehm Bi, maaf Fima ga makan-makanan dari kulkas Bi,” “Oh gitu ya sudah air putih ja ya gapapa kan?” “ia boleh deh, oia gimana nih dah mau magrib, Fima pulang duluan ya Bi, takut nyokap nyariin nih,” “ehm magrib disini ja Ma, ntar pulangnya dah magrib,” “ia deh, bentar ya Fima mau ngasih tahu dulu nyokap.” Dipandanginya Fima yang sedang menelepon, Habi merasakan nuansa romantis petang itu, ia merasakan Fima memang sedikit ingin menunda waktu pulangnya.
Laporanpun selesai tepat pukul 8 malam, akhirnya Fimapun pulang. “Fima pulang dulu ya Bi,” “ia hati-hati ya, sms kalo udah nyampe rumah, biar laporan aku yang anter besok pagi ke kampus deh, makasih ya Ma.”
Sejak malam itu, mereka kembali sering kirim terima pesan, atau sesekali via telepon. Hingga pada akhirnya sekitar tanggal 20 Oktober:
Fima  : “pagi ini matahari masih malu-malu menampakan dirinya, sepertiku yang malu beraktifitas kembali di hatinya. Malu karena pernah menyakiti tempatku beraktifitas. Aku ingin meminta buah apel darinya, dan aku tahu pasti dia akan memberinya karena dia tidak mendendam, tapi bagaimana cara aku memintanya?
Habi  : “ku bagai mentari pagi ini, tak lelah karena memang itu aku, dinda, aku punya banyak buah apel disini, kalo kamu mau, aku bisa kasih semuanya, biar kamu makan, dan sebagian kamu simpan.”
Smsan berhenti sampai disana, keesokan harinya, Habi ingin memastikan, siapa tahu Fima pengen balikan lagi.
Habi  : “Fima maksud dari sms kemarin itu, bener ga kalo kamu kembali suka ke aku dan ingin beraktifitas kembali di hati ini?”
Fima  : “kamu udah baca status aku di FB kan, (…….. ku ingin mengakui, bahwa aku masih menyukainya (H)) itu buat kamu Bi, inisial nama kamu).tapi itu juga kalo kamu mau, tahu sendiri Fima kan pendiem orangnya, takutnya kamu ga bisa.
Untuk lebih mamastikan lagi, kemudian Habi menelepon Fima.
Habi  : Jadi gitu Ma, so do you want me to be yours?”
Fima  : yes
Habi  : pake bahasa Indonesia ya takutnya aku salah denger. Jadi kamu mau jadi pacar aku lagi Ma?
Fima  : Ia mau Bi.
Habi menduga sebelumnya Fima pasti kembali lagi untuknya, dan akhirnya semuanya menjadi kenyataan. Tak begitu bisa dideskripsikan perasaan Habi waktu itu, jelas senyumnya menunjukan dia teramat senang luar biasa. Habi menanyakan, memperjelas kenapa Fima bisa suka lagi sama dia. Fimapun menjelaskan bahwa kegigihan Habi selama ini untuk meneruskan niatnya, yang Fima tahu dari setiap sms-smsnya, dari cara ia memperlakukan Fima, semuanya menunjukan rasa ingin memiliki yang kuat dari Habi.
Fima termasuk cewe cuek, tapi Habi berusaha slalu menyesuaikan, meski sedikit mengganggu konsentrasi Habi saat itu.
Di hari ketiga mereka berpacaran tanggal 25 Oktober, merekapun bertemu meski hanya sekitar satu jam saja, tapi menjadi moment diamana rasa kangen bertabur disana. Ketakutan Habi untuk kehilangan Fimapun sirna sudah,Fima kini berada disampingnya,
Suatu ketika, tepatnya di hari raya Idul Adha, ada sedikit ganjalan di hati Habi, Habi berusaha sms dan telepon Fima, tapi tetap tidak ada balasan. Mungkin Fima lagi sibuk dengan kegiatan lebarannya. Tapi cueknya Fima, mulai terasa kurang nyaman di hati Habi, hingga kerap kal menjadi bahan pikiran Habi. Selalu tidak ada jawaban pasti ketika ditanya mengapa Fima demikian. Hingga pada malam harinya Habi coba menelepon Fima.
Habi : Fima kenapa si daritadi ga di angkat ga di bales juga sms yang udah banyak aku kirim, ada apa ci?, kan aku dah bilang, apapun itu, please komunikasikan Ma, bisa kan?
Fima  : ga ada apa-apa ko, lagi males aja.
Habi  : ko males, aku kan pacar kamu Ma, biasanya orang seneng ditelepon comonya sendiri, gimana kita bisa saling kenal Ma kalo kaya gini caranya, tadinya pacaran ini jadi penyemangat buat satu sama lain, tapi ko gini ya. Gini deh, sebenernya kamu mau terusin hubungan ini atau tidak, jujur saja ya Ma, ini semester akhir, mesti banyak yang perlu difokusin, terutama untuk mengejar cita kita masing-masing, toh nanti kalo kita sukses, kita berdua yang seneng. Aku ga maksa kamu deh, kamu juga udah tau gimana aku nunggu kamu selama ini. Aku Cuma pengen ngerasain rasa memiliki kamu ke aku Ma, itu ja, setelah itu kamu mau cuek juga silahkan, toh aku dah tenang karena kamu dah jadiin aku satu-satunya wat kamu. Gitu Ma.
Fima  : maaf ya Bi, Fima takut ini jadi beban wat kamu karena sikap Fima.
Habi : Jadi kamu mau akhirin ja hubungan ini?
Fima  : Ia Bi, maaf banget ya. Maaaaaaf banget Bi.
Habi terdiam lama, dan kemudian menjawab: ya sudah kalo itu mau kamu, kita masih bisa jadi teman ko, jangan berubah ke aku ya Ma. Ga nyangka secepat ini lagi. Tapi kalo kamu berubah pikiran, aku tunggu sampe besok pagi jam 06.00 ya, kalo tidak ada informasi lagi berarti kita memang mesti selesai sampe sini.
Fima  : ia Bi.

Tidur Habi ta tenang malam itu, hingga ia tidur dan terbangun kembali jam 02.00 dini hari. Sperti biasa ia mohon yang terbaik. Dan kemudian dilanjutkan tidur. Saat shalat shubuh, kembali belum ada pesan masuk hingga lewat jam 06.00 tetap tak ada balasan. Habi membanting tubuhnya ke kasur, lemas, lelah, cemas, bingung, kecewa bersatu seperti sunami aceh waktu itu, porak poranda semua.

Inilah doa habi malam sebelumnya, dini hari 02.00:
Ya Allah jika engkau berkenan, jadikanlah Fima pasangan untukku. Sungguh tak tenang hati ini ya Allah. Kan kujadikan dia bahagia melalui tangan ini atas seizinmu ya Allah. Biarkan hamba memastikan semuanya esok hari, tunjukan rasa ingin memilikinya jika dia memang baik untuk hambamu ini ya Allah, tapi jika tetap seperi itu sikapnya, aku ikhlas ya Allah, aku yakin dengan niatanMu yang baik dibalik semua ini, Robanna hablana min ajwajina wadurriyatina qurrota a’yun waj’ alna lilmuttaqina imama, amin. Pertemukan ketikaku siap untuknya”





                                                                   Karya, 26 Oktober 2012




Baran Wargika (0877 4446 1849)